Ekspedisi Pendakian Gunung Lawu Via Candi Ceto
Lawu adalah
salah satu gunung yang berada di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Gunung Lawu adalah gunung yang terkenal dengan mistisnya, tapi jangan salah
sangka keindahan alam dan juga eksotismenya tidak kalah dengan gunung-gunung
lainnya. Pendakian saya kali ini memilih jalur pendakian lewat Candi
Ceto yang berada di kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Saya beserta
rombongan berangkat dari Solo pukul 7 pagi dan sampai di basecamp pukul 9 pagi.
Memang dari solo ke basecamp Candi Ceto dapat ditempuh antara 1,5 - 2 jam
perjalanan dengan kendaraan pribadi.
Kenapa
memilih pendakian lewat jalur Candi Ceto?
Sebenarnya pendakian lewat jalur
Candi Ceto memiliki waktu tempuh yang paling lama dibandingkan dengan jalur
pendakian lainnya yaitu via Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang
bahkan 2 kali lipat jarak tempuhnya.
Biasanya pendakian Lawu via Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang bisa ditempuh dengan
waktu 4-5 jam tapi jika melalui jalur Candi Ceto bisa ditempuh dengan waktu
9-11 jam. Akan tetapi jika lewat jalur Candi Ceto kita akan melewati destinasi
wisata lainnya yaitu Candi Ceto sendiri dan juga Candi Ketek yang berada di jalur menuju pos 1. Tidak hanya itu kita juga akan disuguhkan dengan sabana
yang bernama Bulak Peperangan yang sangat luas yang berada di pos 5. Medanya
pun juga bisa dibilang tidak terlalu ekstream.
Perjalanan
dari basecamp menuju pos 1
Perjalanan dari basecamp menuju pos 1 tidaklah lama, sekitar 1 jam
perjalanan. Saat perjalanan kita akan melewati kompleks Candi Ceto kemudian
akan disambut dengan aliran sungai yang mengalir. Akan tetapi sekarang sungai
tersebut gersang dan sama sekali tidak ada airnya di musim kemarau seperti ini.
Kata salah seorang penjaga basecamp dulunya walaupun musim kemarau sungai itu terus
mengair tapi semenjak para penduduk mulai mendekati sumber airnya, sungai jadi
mengering dan gersang di musim kemarau. Nah, setelah melewati aliran sungai
yang gersang itu kita akan disambut oleh eksotisme Candi Ketek. Candi Ketek ini
tidak sebesar dan semegah Candi Ceto tapi letaknya yang berada diatas Candi
Ceto dan dikelilingi pohon yang rimbun menambah sejuk suasana jika berada di
sini. Setelah melewati Candi Ketek kita akan melewati jalur setapak menuju pos
1. Selama perjalanan menuju pos 1 adalah tracking menanjak dengan kontur tanah
yang padat dan agak sedikit berdebu. Setelah sampai di pos 1 kita bisa
beristirahat di selter yang telah disediakan.
Perjalanan
dari pos 1 menuju pos 2
Hampir sama
perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 ini sekitar 1 jam. Track dijalur ini sudah
mulai menanjak dan hanya sedikit bonus (
jalur landai ). Saat musim kemarau seperti ini jalur pendakian di pos 1 menuju
pos 2 sangat berdebu dan juga panas. Setelah sampai di pos 2 sudah mulai rimbun
pepohonan. Di pos 2 suasananya agak wingit dan terdapat pohon besar di
dekat selter tempat untuk beristirahat.
Perjalanan
dari pos 2 menuju pos 3
Dari pos 2
menuju pos 3 agak sedikit lama hampir 1,5 jam perjalanan. Selama perjalanan
menuju pos 3 jalur pendakian semakin menanjak akan tetapi rimbunnya pepohonan
membuat suasana menjadi sejuk. Sebelah kanan dan kiri jalur pendakian, kita
akan melihat sisa-sisa batang kayu yang sudah menghitam, mungkin sisa dari
kebakaran dulu. Nah, sebelum sampai di pos 3 terdapat sumber air dari peralon
yang telah disediakan untuk para pendaki. Di sini biasanya para pendaki
beristirahat sekaligus mengisi pasokan air yang dibawanya untuk dibawa naik.
Tidak jauh dari sumber air , kira-kira 15 menit perjalanan naik kita sudah
sampai di pos 3. Sama seperti di pos 1 dan 2 di pos 3 juga terdapat selter
yang cukup untuk 10 orang.
Perjalanan
dari pos 3 menuju pos 4
Dalam perjalanan dari pos 3 dan pos 4 Kabut sudah mulai naik,
sehingga udara yang semakin dingin sudah bisa kita rasakan. Jarak tempuh dari pos
3 menuju pos 4 sekitar hampir 2 jam lamanya, memang agak lama dibanding saat
perjalanan dari pos-pos sebelumnya. Medan dan jalur tracking menuju pos 4 ini
sudah banyak bonusnya ( landai ). Kita bisa menghela nafas dan sesekali
beristirahat.
Perjalanan
dari pos 4 menuju pos 5 ( sabana )
Jalur menuju
pos 5 sudah banyak landainya. Pohon-pohon cemara yang besar-besar juga
sudah mulai terlihat, terkadang di sisi jalur pendakian kita bisa menemui bunga
edelweis khas gunung lawu. Lama perjalanan dari pos 4 menuju pos 5 sekitar
1,5 – 2 jam. Ketika hampir sampai di pos 5 bisa ditandai saat kita melewati
jalur zig-zag yang menanjak. Setelah itu terdapat sabana yang cukup luas ,
disini terdapat ladang bunga edelweis yang bertebaran dimana-mana. Ingat kita tidak
boleh mengambil maupun memetik bunga ini, karena bunga ini sudah dilindungi,
tetap jaga vegetasi alam dan juga patuhi aturan saat kita naik gunung termasuk
selalu bawa sampah kita turun. Setelah melewati sabana yang cukup luas kita
akan sampai di pos 5 yaitu Bulak Peperangan. Di sini pemandangannya sangat bagus dan indah. Sabana yang luas
yang kanan kirinya diapit oleh bukit-bukit dan pepohonan yang sangat eksotis
memanjakan mata. Di pos 5 tidak terdapat selter seperti di pos-pos
sebelumnya, hanya tulisan plakat pos 5 saja. Banyak yang mendirikan tenda untuk
bermalam di pos 5 ini karena viewnya juga sangat indah.
Perjalanan
dari pos 5 menuju Hargo Dalem ( Warung Mbok Yem )
Jalur dari pos 5 menuju warung
Mbok Yem ini lebih banyak landainya dan kita akan disajikan oleh
pemandangan yang sangat menakjubkan. Setelah itu kita akan melewati sebuah
tanjakan , konon ini adalah tanjakan cinta via Gunung Lawu. Setelah tanjakan
jangan khawatir karena track nya sangat landai, yaitu menyusuri sebuah sabana
yang sangat luas dengan pemandangan yang terbuka. Disini juta terdapat sumber
mata air yaitu Gupak Menjangan yang biasa buat minum rusa atau menjangan. Saat
musim kemarau seperti ini biasanya gupakan menjangan menjadi kering. Setelah 2
jam perjalanan kita akan sampai di pasar Setan
Gunung Lawu. Disini hanya berupa puing-puing bebatuan yang masih menjadi
misteri karena disini konon banyak yang mendengar suara-suara misterius.
Setelah sampai sini tidak memakan waktu lama untuk sampai ke Hargo dalem (
warung Mbok Yem ). Di Hargo Dalem kita akan melihat sebuah petilasan Prabu Brawijaya V
dan tidak jauh dari petilasan kita akan menjumpai warung yang sangat fenomenal
dan menjadi warung tertinggi di Indonesia yaitu warung Mbok Yem. Kapan lagi?
Jangan sia-siakan kesempatan menikmati pecel di warung tertinggi di Indonesia
ini untuk mengisi perut.
Perjalanan
dari warung Mbok Yem ( Hargo Dalem ) menuju Puncak ( Hargo Dumilah )
Tracking
menanjak dan berbatu akan menyambut kita sebelum sampai ke puncak Hargo
Dumilah. Jadi siapkan energi ekstra selama beberapa menit, karena untuk sampai
ke puncak tidak memakan waktu yang lama. Puncak Hargo Dumilah berada di
ketinggian 3.265 mdpl yang ditandai dengan tugu yang sangat kokoh berdiri tegak
di puncak Gunung Lawu. Tidak terbayang bagaimana dulu pembuatan tugu ini,
karena untuk sampai ke puncak aja sudah lumayan berat ditambah dengan membawa
beban material untuk membuat tugu ini. Disini biasanya para pendaki berfoto
untuk mengabadikan momen mereka yang sudah berhasil sampai puncak Gunung Lawu.
Sayangnya untuk menikmati pemandangan di puncak Hargo Dumilah ini agak tertutup
pepohonan. Jika ingin menikmati pemandangan biasanya para pendaki berada di
puncak Hargo Dumiling yang tidak jauh dari puncak Hargo Dumilah. Di
puncak Hargo Dumiling pemandangan sangat bagus, hamparan sabana, perbukitan,
dan jajaran Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, serta Gunung Sumbing
tampak dari puncak.
Perhitungan
waktu dari basecamp menuju puncak Hargo Dumilah :
Basecamp – pos 1 = 1 jam
Pos 1 - Pos 2 = 1 jam
Pos 2 – Pos 3 = 1,5 jam
Pos 3 – Pos 4 = 2 jam
Pos 4 – Pos 5 =
1,5 – 2 jam
Pos 5 – Hargo Dalem (
warung mbok yem ) = 2 jam
Hargo Dalem – Hargo
Dumilah ( puncak ) = 1 jam
Total
lamanya waktu pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto = 10 -11 jam
Estimasi
Biaya :
Karena saya
sendiri tinggal dan berdomisili di kota Solo, maka saat perjalanan menuju ke
basecamp Gunung Lawu via Candi Ceto saya dan rombongan menggunakan motor.
Parkir motor selama sehari di basecamp dikenakan biaya Rp.5000,-. Untuk biaya
pendaftaran pendakian dikenakan biaya per orang Rp.15.000,-
Tips dan
Saran :
- Bawalah peralatan sesuai standard pendakian seperti tenda, sleeping bed, matras, dll.
- Bawalah baju ganti atau baju cadangan serta jaket yang tebal untuk mencegah hipotermia ketika berada di puncak atau saat ngecamp.
- Bawalah air secukupnya, jangan takut kehabisan air karena di pos 3 ada sumber air dari peralon. Dan setelah sampai di sini jangan sia-siakan untuk mengisi pasokan air yang sudah habis sewaktu perjalanan.
- Saya sarankan untuk ngecamp di sabana Bulak Peperangan sebelum petang menjelang, selain viewnya bagus di pagi hari juga untuk meminimalisasi resiko perjalanan malam hari, karena selain udara dingin juga anginnya sangat kencang di malam hari. Setelah pagi hari baru lanjut menuju puncak Hargo Dumilah
- Jangan merusak ataupun melubangi pipa-pipa peralon yang ada di sepanjang jalur pendakian.
- Jangan memetik atau merusak bunga edelweis karena bunga ini sangat langka dan juga dilindungi.
- Bawalah sampah saat turun, jangan membuang atau mengotori gunung dengan sampah yang kita bawa.
- Jika membuat api unggun, setelah selesai matikan sampai benar benar padam untuk menghindari api menyebar yang akan menimbulkan kebakaran hutan.
- Jangan paksakan diri untuk sampai ke puncak jika sudah tidak sanggup. Ingat mendaki gunung bukan bagaimana kita bisa di puncak tapi bagaimana kita bisa menaklukkan diri sendiri.
·
·
Cerita dan Mitos
yang beredar di masyarakat
Banyak cerita dan mitos yang beredar
di masyarakat seputar pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto. Benar atau tidaknya
tergantung kita yang mempercayainya, tapi tidak sedikit juga yang sudah
mengalaminya. Berikut ini adalah cerita dan mitos saat pendakian di Gunung Lawu
:
- Jika saat melakukan pendakian kita bertemu dengan burung jalak hitam khas Gunung Lawu berarti kita di sambut baik dan dipersilahkan.
- Bulak Peperangan menurut certia legenda di situ adalah tempat berlangsungnya peperangan saudara di kerajaan Majapahit. Konon ada cerita pendaki yang mendengar suara-suara orang sedang perang saat ngecamp di Bulak Peperangan.
- Pasar Dieng atau Pasar Setan, konon banyak pendaki yang mendengar suara-suara aneh disini.
- Di Hargo Dalem tidak jauh dari warung Mbok Yem terdapat sebuah bangunan yaitu petilasan Prabu Brawijaya V. Dari cerita legenda tempat ini merupakan tempat Prabu Brawijaya V moksa ( menghilang tanpa bekas ).



















3 komentar
Lawu via Cetho ada baiknya perjalanan siang..
ReplyDeleteAura mistisnya masih terasa banget..
mas lukman bener bener jalan pendaki banget sekarang
ReplyDelete@mas Anggara W. Prasetya
ReplyDeleteIya mas...😀, makanya jika perjalanan jika sudah petang lebih baik segera mendirikan tenda, dan lanjut perlanan keesokan harinya.
@Dhanang Sukmana Adi
Hahaha...bisa aja pak😁, ayo mendaki lagi pak