Pengalaman Seru dan Horor Saat Pendakian Gunung Merbabu
Gunung Merbabu merupakan salah satu
gunung non aktif yang berada di Jawa Tengah tepatnya berada antara kabupaten
Magelang dan Boyolali yang memiliki ketinggian 3142 mdpl. Gunung merbabu
memiliki pemandangan yang sangat indah di bandingkan gunung – gunung yang
berada di jawa. Gunung merbabu memiliki tiga puncak yaitu puncak Kenteng Songo,
Puncak Triangulasi dan Puncak Syarif. Nah, saat pendakian di gunung merbabu ini
saya mendapatkan pengalaman yang sangat seru dan juga sedikit menegangkan
berbau horor. Jika penasaran yuk simak cerita seru saya hehe
Bermula
setelah wisuda kuliah, saya dan teman satu geng ( teman kampus ) merencanakan
untuk melakukan pendakian di gunung merbabu. Yah, itung-itung merayakan kelulusan
di gunung begitu pikir kita waktu itu. Berangkat hari sabtu 28 Oktober 2017 ,dari
rumah pukul 9 malam dan sampai basecamp sekitar jam 10 malam. Di pendakian
gunung merbabu ini kita mengambil jalur pendakian via gancik jalur pendakian
lama. Sebenarnya ada dua jalur yang pertama via gancik jalur baru dan via
gancik jalur lama. Saya dan teman-teman memilih jalur pendakian lama karena
memang jalurnya santai dan tidak terlalu menanjak disamping itu kita juga berenam
ada satu cewek. Lanjut, setelah beristirahat beberapa saat di basecamp kita start mendaki jam 10.30 malam. Mendaki
malam hari seperti ini ternyata banyak juga barengannya. Beberapa kali kita berpapasan
dengan rombongan pendaki lain dan saling tegur sapa. Hal semacam ini memang
sering dilakukan antar sesama pendaki saat berpapasan, mulai dari saling sapa,
saling menyemangati, berbagi bekal, sampai break bareng sambil sesekali
terlibat obrolan ringan. Pendakian kali ini memang kami tidak terlalu terburu –
buru untuk sampai di puncak. Santai dan sesekali break untuk sekedar menghela
nafas dan minum kami lakukan di sepanjang perjalanan menuju ke pos 1. Bahkan
setelah sampai di pos 1 si Devan ( salah satu teman yang baru aja terjerat game
online ) meminta untuk tidur dulu selama 10 menit, “maklum boy seharian gak
tidur main game online”. Parah ini anak nekat aja naik gunung setelah seharian
gak tidur, kata saya dalam hati. Akhirnya saya dan Devan pun istirahat di pos 1
sambil nunggu yang lain yang masih di bawah yang tidak begitu jauh. Oh iya,
jarak tempuh dari basecamp menuju pos 1 ini kira – kira 45 sampai 1 jam
perjalanan santai.
Perjalanan dari pos 1
menuju pos 2
Setelah
istirahat beberapa saat dan si Devan sudah kembali nyawanya ( sudah terbangun
setelah tidur 10 menit ) kita serombongan pun melanjutkan untuk menuju pos 2.
Selama perjalanan menuju pos 2 di pendakian gunung merbabu kali ini tracknya
mulai menanjak meskipun tidak terlalu sering dan juga masih banyak track landai
( bonus ). Walaupun begitu si Handa satu satunya cewek dalam rombongan kami
sesekali minta untuk break sebentar. Dengan digandeng terus oleh Anas (
gebetannya Handa yang ngak jadi hahaha ) Handa pun seperti mempunyai tenaga
ekstra untuk terus melanjutkan perjalanan. Selama hampir 1 jam akhirnya kami
semua tiba di pos 2. Beberapa saat kita beristirahat di pos 2 yang memang sudah
ramai oleh pendaki, kira – kira ada 5 rombongan dan salah satu rombongan
memutuskan untuk mendirikan tenda. Setelah 15 menit istirahat kami pun
memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pos 3 yang memang sudah terlihat
dari pos 2. Ya, memang jarak antara pos 2 dan pos 3 tidak begitu jauh meskipun
jalanannya menanjak.
Perjalanan dari pos 2
menuju pos 3
Saat
perjalanan menuju ke pos 3 kami terpisah menjadi 3 rombongan. Si Eka dan Simbah
duluan jauh di depan, saya sama Devan menyusul jauh di belakang mereka
sedangkan Anas masih setia menggandeng Handa yang sedikit kelelahan di
belakang. Di tengah perjalanan apa yang saya rasakan sedari tadi pun akhirnya
terjadi juga. Sebelumnya saat akan melanjutkan perjalanan dari pos 2 saya sudah
bilang sama Devan bahwa saya merasakan kok ada gemercik air yang sepertinya mau
hujan. Dan akhirnya rintik hujan pun menyambut kami di tengah – tengah
perjalanan menuju pos 3. Bergegas saya dan Devan pun menepi di bawah pohon yang
berada di sebelah jalur pendakian untuk berteduh. Dengan tergesa – gesa saya
keluarkan mantol dari dalam carrier yang memang sudah saya persiapkan saat
packing sebelumnya. Sayangnya mantol yang saya bawa adalah mantol baju
sedangkan Devan tidak bawa mantol. Akhirnya mantol kita tata di atas pohon dan
kita berteduh di bawah mantol tersebut, walaupun demikian baju kami tetap basah
karena hujan juga deras waktu itu.
Tidak
berselang lama rombongan lain datang dan ikut berteduh bersama kami disusul Anas
dan Handa yang juga sudah basah. Mereka semua masing masing mengeluarkan mantol
kemudian ditata juga di atas pohon supaya bisa buat menahan air hujan saat kita
berteduh rame – rame seperti itu dan untungnya hujan yang deras tidak begitu
lama. Kami pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan meskipun masih gerimis
berharap sampai di pos 3 yang memang kurang sedikit lagi sampai sebelum hujan
deras datang lagi. Tapi di tengah perjalanan Handa terlihat menggigil dan Anas
juga ternyata sudah kedinginan. Di situ akhirnya kita putuskan untuk mendirikan
tenda dan untungnya kita pas berada di pinggir tanah yang datar yang cocok
untuk mendirikan tenda. Di Tengah gerimis hujan dan hawa dingin yang menusuk
tulang, kami mendirikan tenda yang berkapasitas untuk 6 orang. Setelah tenda
berdiri kami bergegas masuk ke dalam tenda dan berganti baju, karena memang
baju kita sudah basah semua. Di dalam tenda Anas dan Handa sudah kedinginan dan
segera masuk ke kantung sleeping bad, sedangkan saya dan Devan segera memasak
air untuk membuat kopi dan masak mie instan. Yah, memang sedari tadi kami sudah
menahan lapar dan juga kedinginan. Setelah masakan selesai kita pun segera
bergeges makan dan minum kopi untuk mengembalikan tenaga serta menghangatkan
tubuh yang sedari tadi menggigil. Waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB, kita
segera beristirahat dan tidak lupa memasang alarm jam 5 pagi untuk persiapan
melanjutkan perjalanan pendakian ke puncak gunung merbabu. Nampaknya semua
tertidur dengan pulas malam itu hingga alarm pun berbunyi yang menandakan waktu
sudah pukul 5 pagi. Kami pun terbangun
dan segera menyipkan sarapan pagi dan juga prepare barang - barang yang di rasa butuh saat melanjutkan
perjalanan ke puncak. Dengan meninggalkan tenda pukul 06.30 WIB kita mulai
perjalanan menuju pos 3 dengan membawa bekal roti juga 2 botol besar air
mineral. Ternyata 5 menit perjalanan kami sudah sampai ke pos 3 dan dari pos 3
hanya tenda kami satu satunya yang berdiri di bawah pos 3 hahaha , sedangkan di
pos 3 sudah banyak sekali tenda tenda yang berdiri dan terlihat beberapa
pendaki sudah mulai naik menuju titik selanjutnya yaitu sabana 1 gunung
merbabu.
Perjalanan dari pos 3
menuju sabana 1
Dilihat dari pos 3 pendakian gunung merbabu track menanjak dan sangat
tinggi terpampang di depan mata. Mungkin inilah tanjakan yang diceritakan teman
sebelum mendaki, bahwa banyak mental pendaki yang gugur setelah melihat
tanjakan ini. Memang betul saat itu mental sedikit down. Tapi setelah beberapa
saat termenung dan memang target kita dari awal adalah sampai puncak tertinggi
gunung merbabu, semangat kita ber empat pun kembali membara dan langsung
melanjutkan menaklukkan track menuju sabana 1 tersebut. Saya dan Devan berada
di depan mendahului Anas yang masih dengan kesabaran tingkat dewa menuntun Handa
perlahan menaiki tapak demi setapak tanjakan yang memang menguras tenaga. Saya
dan Devan memutuskan untuk naik dan menunggu Anas dan Handa di sabana 1
dikarenakan kalau break kelamaan akan terasa tambah lelah dan juga hawa dingin
akan semakin menusuk.
Akhirnya
Saya dan Devan pun tiba di sabana 1 pendakian gunung merbabu. Sembari menunggu
Anas dan Handa yang masih berjuang menaklukkan tanjakan tersebut dan memang
tertinggal agak jauh di bawah, saya pun istirahat sambil menikmati keindahan
sabana 1 yang sangat begitu memukau setiap insan yang menapakkan kaki di situ.
Di sisi kanan dan kiri terdapat banyak tenda – tenda pendaki yang semalam
bermalam disitu. Memandang ke arah barat mata saya kembali terperangah setelah
melihat jalur pendakian yang menanjak melewati bukit lagi. Pikir saya disitu
adalah puncaknya tapi setelah melewati bukit itu ternyata adalah sabana 2 dan
puncak gunung merbabu masih menaiki bukit yang berada di belakang sabana 2 dan tracknya juga bisa terlihat dari sabana 1 ini.
“wah gila nih tracknya, bisa kuat sampai puncak gak nih ?”, pikir saya dalam
hati. Tak lama kemudian Anas dan Handa pun tiba di sabana 1 dengan candaan yang
mereka buat yang sedikit mengaburkan keresahan saya setelah melihat track
tersebut. Di Sabana 1 ini kita berhenti sejanak untuk sekedar istirahat dan juga
berfoto – foto, karena memang menurut saya sabana 1 di gunung merbabu ini
adalah spot foto yang paling bagus dibandingkan di sepanjang jalur lainnya.
Perjalanan dari sabana
1 menuju sabana 2
Setelah puas
berfoto dan beristirahat kami pun saling menyemangati dan membulatkan tekat untuk bisa mencapai puncak. Semangat kami pun kembali terbakar dan dengan tekat
baja pantang menyerah, kami mulai menaiki tanjakan menuju ke sabana 2 yang
merupakan pos berikutnya sebelum mencapai puncak gunung merbabu. Memang track
tanjakan menuju sabana 2 ini tidak sejauh dan semenanjak track sebelumnya saat
mencapai sabana 1, tapi cukup menguras tenaga kita sehingga memaksa kami untuk
sesekali beristirahat untuk menghela nafas. Tanjakan demi tanjakan kami lewati hingga
sampai akhirnya kita sampai di sabana 2 gunung merbabu. Sabana 2 gunung merbabu
tempatnya tidak sebegitu luas seperti sabana 1 tapi tempatnya lebih datar dan
dikelilingi bukit yang membentang. Di sabana 2 ini hanya terdapat 4 tenda saja.
Saya bisa bayangkan perjuangan mereka hingga bisa mendirikan tenda di sabana 2
ini dengan membawa tas carrier yang pastinya tidak ringan melewati tanjakan –
tanjakan yang bisa membuat mental down setiap pendaki.
Perjalanan dari sabana
2 menuju puncak merbabu ( Kenteng Songo )
Tanpa istirahat kami memutuskan pendakian hingga sampai ke puncak gunung
merbabu. Perlahan tapi pasti setiap langkah setiap tapak tanah kami daki dan
berkali kali langkah kami terhenti untuk sekedar menghela nafas dan juga
membasahi tenggorokan kita yang sudah kering. Disini saya lihat masih begitu
setianya temanku yang satu ini menggandeng dan menuntun Handa untuk terus
berjuang agar bisa meraih impiannya menapakkan kaki dipuncak gunung merbabu. Setelah
beberapa lama kami pun tiba di Puncak Kenteng Songo yang merupakan salah satu
puncak dari gunung merbabu yang paling ramai. Pada waktu itu saya melihat jam ternyata sudah pukul 12.30 WIB.
Tidak terasa perjalanan kami dari tenda yang berada di pos 3 sampai ke puncak
selama 6 jam perjalanan hehehe. Di puncak Kenteng Songo kami pun berfoto – foto
sembari menikmati pemandangan yang luar biasa dari puncak. Bukit – bukit sabana
1 dan sabana 2 serta tenda – tenda para pendaki yang berada di sana nampak
jelas dari puncak. Di sisi sebelah nampak dengan jelas Gunung Merapi menjuntai
mendampingi disisi Gunung Merbabu. Di puncak Kenteng Songo ini gunung merbabu
menepati janjinya dengan menyuguhkan panorama pemandangan yang memukau setelah
kita melakukan kewajiban dan pengorbanan yang sangat menguras tenaga.
Puncak
Kenteng Songo terdapat susunan batu yang berjajar rapi dengan lubang di setiap
batu yang terbentuk secara alami. Saat kami tiba di puncak Kenteng Songo, batu –
batu tersebut sudah dipagari tali yang mengelilinginya dan terdapat tulisan
yang intinya agar selalu menjaga dan selalu melestarikan alam. Mungkin ini yang
dilakukan oleh pendaki yang berada di puncak selama 100 hari kemarin. Sayang
kita tidak berjumpa dengan mereka karena mereka mungkin sudah turun pagi hari
tanggal 28 Oktober kemarin karena hari itu adalah hari Sumpah Pemuda.
Perjalanan dari puncak
Kenteng Songo ke puncak Triangulasi
Setelah puas menikmati pemandangan dan berfoto di puncak Kenteng songo
kita pun memutuskan untuk sekalian menapakkan kaki di puncak Triangulasi yang
memang berjajar dan berjarak cukup dekat dengan puncak Kenteng Songo. Mungkin 5
sampai 10 menit kita sampai di puncak Triangulasi. Di puncak Triangulasi ini ternyata juga sepi,
hanya kami yang berada disana. Pemandangan disini juga sangat indah tidak kalah
dengan di puncak Kenteng Songo. Setelah berfoto – foto kami pun segera turun,
karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Selain itu juga kabut
sudah mulai naik dan kami juga tentunya tidak ingin kedinginan diatas puncak.
Perjalanan turun dari
puncak kembali ke tenda
Kami pun bergegas untuk turun. Setelah berunding dengan teman – teman akhirnya
saya memutuskan untuk turun duluan dengan berlari sama Devan yang memiliki
tanggung jawab setelah sampai tenda memasak mie dan juga buat kopi untuk Anas
dan Handa yang terakhir nanti sampai tenda. Saya dan Devan pun turun dengan
berlari dari puncak sedangkan anas masih setia menuntun Handa turun. Setelah
berlari sekian lama akhirnya saya sampai duluan di tenda di susul Devan.
Ternyata kalau turun lari dari puncak sampai ke tenda hanya 1 jam perjalanan.
Kita pun mulai memasak mie dan juga kopi untuk mengembaikan tenaga kita yang
sudah sangat terkuras tadi. Tidak lupa Devan juga memasakkan air untuk Anas dan
Handa yang lagi perjalanan menuju tenda setelah kami makan.
Setelah itu
saya pamit ke devan ,” Van aku tak merem ya”. Devan menjawab “ Iya luk biar aku
tunggu ini air sampai mendidih”. Tak lama kemudian tedengar suara Anas dan
Handa yang baru datang dan saya pun terbangun dan ternyata si Devan malah
ikutan tidur dengan kompor yang sudah mati karena gasnya habis. Terpaksa Anas
ganti gas yang baru dan langsung masak air untuk mereka makan. Setelah mereka
makan kami pun packing untuk turun sekitar jam 5 sore. Tampaknya kita memang
kesorean waktu itu untuk turun kembali ke basecamp.
Tragedi tersesat dan
horor saat perjalanan dari tenda menuju basecamp
Waktu itu pukul setengah enam sore dan kita siap turun menuju basecamp. Saat
perjalanan turun Devan sudah langsung berlari duluan meninggalkan kita bertiga yang
berada di belakang. Saat itu memang Handa fisiknya sudah down dan sudah
batasnya. Kakinya sebelah kiri keram dan kami bertiga hanya berjalan pelan saat
turun. Devan pun tidak mengetahui akan hal itu dan terus berlari kebawah
berfikir kita juga akan mengikutinya berlari. Sampai pada akhirnya terdengar
suara adzan maghrib kemudian saya, Anas dan Handa pun berhenti sejenak. Disitulah
saya sudah merasakan keganjilan yang terjadi. Saat berhenti itu saya paling
belakang, saya menunduk menalikan tali sepatu saya yang terlepas dan terdengar
suara langkah kaki seperti orang berlari di belakang saya. Saya tengok tidak
ada siapa-siapa. Handa langsung bertanya kepada saya, “ada apa luk? “ karena
saya tau di gunung hal semacam itu tidak boleh dibicarakan dan cukup tau dan
dirasa aja, selain itu saya juga tidak mau Handa dan Anas juga ketakutan maka
saya jawab,” gak ada apa – apa kok nda”. Padahal kita ber tiga adalah pendaki
terakhir yang turun waktu itu.
Setelah
adzan maghrib selesai kami mulai melanjutkan perjalanan dengan dibantu
penerangan 3 senter yang kami bawa. Tentunya dengan baterai yang sangat menipis
dayanya karena sebelumnya dipakai untuk naik. Nyalanya pun juga sudah tidak
begitu terang. Di tengah perjalanan kejadian ganjil pun kembali saya rasakan.
Kali ini kita bertiga sama – sama merasakan. Dari sisi kiri saat perjalanan
turun adalah jurang dan kami sama – sama mendengar suara burung tapi seperti
suara orang saat tertawa dari arah jurang itu dan terus mengikuti kita. Beberapa
kali saya arahkan sorot senter ke arah jurang , tapi tidak ada apa – apa hanya
jurang yang sangat dalam yang terlihat. Karena saya berada di belakang dan Anas
masih menuntun Handa di depan saya bilang ke mereka “udah tidak apa , pelan –
pelan aja jalannya”. Kita pun tidak menghiraukan suara itu dan tetap fokus
jalan kedepan. Hingga sampai di pos 2 suara itu masih mengikuti kita tapi
pindah di sisi sebelah kanan yang merupakan pepohonan yang lebat.
Seprtinya
suara itu tidak bosan mengikuti kita dan kita pun juga menghiraukan suara itu,
sampai akhirnya hilang sendirinya saat perjalanan menuju pos 1. Saat itu memang
sudah gelap gulita dan parahnya lagi senter kami sudah mati satu karena
kehabisan daya. Saya ambil senter lagi yang satunya dan nyalanya pun juga
redup, tapi tak apalah semoga bisa sampai bawah doa saya waktu itu. Saat itu
saya tukar posisi dengan Anas , saya berada di depan mencari jalan sendangkan Anas
lagi – lagi dengan kekuatan hatinya yang super menuntun Handa yang mulai
keletihan dan menahan sakit kram di kakinya sampai akhirnya kita tiba di pos 1.
Di pos 1 kita
bertiga kembai beristirahat sejenak sembari rebahan karena memang pundak sudah
pegal-pegal membawa tas cariier yang juga berat. Setelah beberapa menit
beristirahat kita pun melanjutkan perjalanan menuju basecamp. Nah, ditengah
perjalanan kami pun tersesat setelah beberapa kali dihadapkan dengan jalan yang
bercabang. Padahal sebelumnya kita bertemu dengan rombongan pendaki dari UGM
yang hendak mendaki setelah saya tanya basecamp masih jauh gak, mereka menjawab
dekat sekitar 30 menit. Saat tersesat itu jalan menurut saya serasa benar tapi
saya berhenti sejenak dan sedikit heran, kita berjalan turun terus kanapa malah
menanjak lagi?. Saat itu lampu senter juga mati ditambah juga turun gerimis.
Kita pun panik dan berusaha berpikir positif. Akhirnya saya pun mencari jalan
duluan hingga menemukan sebuah patok peralon yang menandakan bahwa itu adalah
jalur yang benar. Kemudian saya kembali dan berkata sama Anas dan Handa bahwa
jalurnya lewat sini yang benar.
Mungkin ini
petunjuk dan jalan yang dikasih tuhan untuk kita, senter pun kembali menyala
walau nyalanya redup. Perlahan kita turun mengikuti jalan setapak itu dengan
petunjuk patok peralon yang ada di setiap sisi jalur yang berjarak 1 kilo
setiap peralonnya. Sampai akhirnya kita sampai di basecamp dan disambut oleh
kekhawatiran Devan yang sedari tadi jam setengah 7 sampai basecamp. Bahkan
saking khawatirnya Devan bolak balik mencari tim sar untuk melapor tapi tidak
ada.
Itulah
pengalaman saya dan teman-teman saat mendaki gunung merbabu. Sangat seru juga sangat menegangkan
dengan dibumbui kejadian horor dan juga sempat tersesat. Cerita ini saya ceritakan apa
adanya dan tidak ada yang di dramatisir. Seperti kita ketahui, semua gunung
menyimpan sejuta kisah misteri tapi gunung juga memberikan keindahan alam bagi
mereka yang mengunjunginya. Dengan niat yang baik dan juga menjaga keindahan
serta kelestarian alam pasti hal – hal yang buruk sewaktu di gunung tidak akan
kita alami. Membawa sampah saat kita turun adalah bukti bahwa kita memiliki
rasa dan jiwa yang sangat perduli dengan alam.

4 komentar
Kalo melihat orang mendaki gunung itu rasanya pengen banget
ReplyDeletetapi sayang belum bisa, karena terkendala pekerjaan
sempet di ajak abang, kondisi tidak memungkinkan hahaha
Naik gunung itu seru kok kak, banyak hal hal yang menyenangkan ditambah pengalaman yang akan kita dapat sewaktu perjalanan
ReplyDeleteNiat amat sampai bawa kostum wisuda, hihi. Iyah merbabu emang agak serem...makanya kudu konsen penuh kalau naik ke sana. Mas suami belum kesampaian ke sana...pengen2 terus dan ngiri denger cerita teman2nya
ReplyDeleteIya mbak memang udah target dari awal sampai puncak dan makai toga hehehe..
ReplyDeleteSemoga sang suami kesampaian naik merbabu dan sampai puncak mbak